Banyak yang bilang kalau "lihat bangunan Bayt Tamyiz untuk pertama kali akan kaget" karena sangat sederhana, tapi itu tidak berlaku bagi saya. Karena saya sudah pernah melihat dan tinggal di Pesantren yang lebih sederhana dalam segi bangunan.
Bangunan di atas inilah yang pertama kali saya lihat, bangunan yang berwarna hijau. Yang saya tahu keesokan harinya kalau bangunan ini adalah bangunan yang setiap harinya di gunakan untuk pemanasan. Untuk pamanasan akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya Insya Alloh.
Bangunan hijau diatas yang saya lihat pertama kali setelah turun dari ojek.
Yang menjadi salah satu alasan mengapa di Blog ini saya memasukkan warna hijau seperti cat tembok bangunan diatas sebagai warna judul dalam Blog ini.
Yang selanjutnya di sambut oleh Om Idin dan diantar ke kantor dan menunggu Ustadz disana, ternyata Ustadz sangat paham kalau saya lelah dan perlu dan pingin istirahat, karena ustad bagian koordinator sedang tidak ada, maka Ustadz Saman langsung mempersilahkan saya istirahat di asrama kuning atau asrama R37.
Gambar diatas saya ambil pada tanggal 21 November 2012.
Demikian cerita saya tentang pandangan pertama saya melihat Pesantren Bayt Tamyiz, yang mengingatkan saya akan kata-kata Bapak saya tentang apa saja jangan dilihat dari luarnya. Bapak saya mengibaratkan denga "batok tapi isine emas" maksudnya tempurung kelapa, tapi dalamnya emas. Tidak terlalu menarik dari luar tapi di dalamnya sangat berharga, dan sangat tidak berlebihan bila itu disematkan pada Pesantren Bayt Tamyiz. Tapi itu untuk sekarang ini, karena bangunan baru sedang dibangun di bagian tengah, jadi bisa jadi beberapa tahun kedepan Bayt Tamyiz sudah tidak lagi seperti yang pertama kali saya lihat.
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar